Cara Menanggulangi Kredit Macet KSPPS Bersatu Kerabat Pulo Kambing

Maju Bersama | Sejahtera Bersama

Cara Menanggulangi Kredit Macet KSPPS Bersatu Kerabat Pulo Kambing

Seiring tumbuh dan berkembangnya lembaga keuangan syariah, koperasi pun semakin bertambah banyak dan tidak sedikit pula yang terpaksa harus tutup. Hal tersebut dikarenakan oleh beberapa penyebab, dan salah satunya adalah kredit atau pembiayaan macet. Akibat dari pembiayaan macet tersebut akan menimbulkan kerugian yang nantinya akan berdampak luas apabila tidak segera ditangani atau diselamatkan.

Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asa kekeluargaan. Namun, dengan semakin berkembangnya suatu kegiatan perekonomian, maka sebagai muslim perlu untuk mengembangkan perekonomian yang berpegang pada prinsip-prinsip syariah Islam. Dan muncullah koperasi yang berprinsip syariah.

Pembiayaan bermasalah adalah suatu penyaluran dana yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan seperti bank syariah yang dalam pelaksanaan pembayaran pembiayaan oleh nasabah itu terjdi hal-hal seperti pembiayaan yang tidak lancer, pembiayaan yang debiturnya tidak memenuhi persyaratan yang dijanjikan, serta pembiayaan tersebut tidak menepati jadwal angsuran.
Pembiayaan macet tersebut bisa disebabkan faktor eksternal dan internal dari Manajemen koperasi sendiri ataupun pihak nasabah (debitur) yang telah mendapatkan pembiayaan tersebut. hal-hal tersebut memberikan dampak negative bagi kedua belah pihak (debitur dan kreditur).

Berkaitan dengan pembiayaan di koperasi, dalam melakukan penilaian permohonan pembiayaan bank syariah bagian marketing harus memperhatikan beberapa prinsip utama yang berkaitan dengan kondisi secara keseluruhan calon nasabah, sehingga bisa mengurangi ringkat pembiayaan bermasalah calon nasabah Di dunia perbankan syariah prinsip penilaian dikenal dengan 5 C + 1 S , yaitu :

Character

Yaitu penilaian terhadap karakter atau kepribadian calon penerima pembiayaan dengan tujuan untuk memperkirakan kemungkinan bahwa penerima pembiayaan dapat memenuhi kewajibannya.

Capacity

Yaitu penilaian secara subyektif tentang kemampuan penerima pembiayaan untuk melakukan pembayaran. Kemampuan diukur dengan catatan prestasi penerima pembiayaan di masa lalu yang didukung dengan pengamatan di lapangan atas sarana usahanya seperti toko, karyawan, alat-alat, pabrik serta metode kegiatan.

Capital

Yaitu penilaian terhadap kemampuan modal yang dimiliki oleh calon penerima pembiayaan yang diukur dengan posisi perusahaan secara keseluruhan yang ditujukan oleh rasio finansial dan penekanan pada komposisi modalnya.

Collateral

Yaitu jaminan yang dimiliki calon penerima pembiayaan. Penilaian ini bertujuan untuk lebih meyakinkan bahwa jika suatu resiko kegagalan pembayaran tercapai terjadi , maka jaminan dapat dipakai sebagai pengganti dari kewajiban

Condition

Koperasi harus melihat kondisi ekonomi yang terjadi di masyarakat secara spesifik melihat adanya keterkaitan dengan jenis usaha yang dilakukan oleh calon penerima pembiayaan. Hal tersebut karena kondisi eksternal berperan besar dalam proses berjalannya usaha calon penerima pembiayaan.

Syariah

Penilaian ini dilakukan untuk menegaskan bahwa usaha yang akan dibiayaai benar-benar usaha yang tidak melanggar syariah sesuai dengan fatwa DSN “Pengelola tidak boleh menyalahi hukum syariah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah.”

Strategy adalah strategi saat koperasi masih ingin mempertahankan hubungan bisnis dengan nasabah dalam konteks waktu jangka panjang.

Penagihan intensif

Rescheduling

1)      Memperpanjang jangka waktu pembiayaan

Dalam hal ini si debitur diberikan keringanan dalam masalah jangka waktu pemiayaan misalnya perpanjangan jangka waktu pembiayaan dari 6 bulan menjadi satu tahun sehingga si debitur mempunyai waktu yang lebih lama untuk mengembalikannya.

2)      Memperpanjang jangka waktu angsuran

Memperpanjang angsuran hampir sama dengan jangka waktu pembiayaan. Dalam hal ini jangka waktu angsuran pembiayaannya diperpanjang pembayarannya pun misalnya dari 36 kali menjadi 48 kali dan hal ini tentu saja jumlah angsuran pun menjadi mengecil seiring dengan penambahan jumlah angsuran

Reconditioning

Dengan cara mengubah berbagai persyaratan yang ada seperti;

1)      Penundaan pembayaran marjin sampai waktu tertentu.

Dalam hal penundaan pembayaran marjin sampai waktu tertentu, maksudnya hanya marjin yang dapat ditunda apembayarannya, sedangkan pokok pinjamannya tetap harus dibayar seperti biasa.

2)      Penurunan marjin

Penurunan marjin dimaksudkan agar lebih meringankan beban nasabah. Sebagai contoh jika marjin per tahun sebelumnya dibebankan 20 % diturunkan menjadi 18 %. Hal ini tergantung dari pertimbangan yang bersangkutan.

3)      Penurunan marjin akan mempengaruhi jumlah angsuran yang semakin mengecil, sehingga diharapkan dapat membantu meringankan nasabah.

4)       Pembebasan marjin

Dalam pembebasan marjin diberikan kepada nasabah dengan pertimbangan nasabah sudah akan mampu lagi membayar pembiayaan tersebut. Akan tetapi nasabah tetap mempunyai kewajiban untuk membayar pokok pinjamannya sampai lunas.

  1.  Restructuring

1)      Dengan menambah jumlah pembiayaan

2)      Dengan menambah equity

  1. Phase out Strategy adalah strategi saat pada prinsipnya Koperasi tidak ingin melanjutkan hubungan bisnis lagi dengan nasabah yang bersangkutan dalam konteks waktu yang panjang,kecuali bila ada faktor-faktor lain yang sangat mendukung kemungkinan adanya perbaikan kondisi nasabah. Strategi yang umumnya dijalankan, semacam pendekatan, yaitu:

Apabila cara Soft Approach tidak dapat menyelesaikan pembiayaan bermasalah yang terjadi, selanjutnya akan ditempuh cara Hard Approach yang melibatkan jalur hukum, yaitu dapat berupa:

  1.  BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional), penyelesaian tersebut dilakukan melalui keadaan setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
  2. Pengadilan, dapat berupa:

1)      Eksekusi Hak Tanggungan (HT) atas agunan

2)      Eksekusi agunan yang diikat secara Fidusia yang didaftarkan ke Kantor Pendaftaran Fidusia (KPF); Melakukan gugatan terhadap aset-aset lainnya milik nasabah; baik yang berlokasi di dalam maupun di luar negeri;

3)      Pelaporan pidana terhadap nasabah, dan sebagainya.

  1. Melibatkan pihak kepolisian

Alternatif terakhir ini (hard approach) dilakukan apabila:

1)      Nasabah tidak dapat dihubungi.

2)      Nasabah melarikan diri.

3)      Nasabah tidak mempunyai itikad baik untuk menyelesaikan kewajibannya sementara sesungguhnya nasabah memiliki kemampuan untuk itu.

4)      Nasabah tidak bersedia menyerahkan agunannya.

Di KSPPS BKPK manajemen kreditnya sudah sesuai teori penyelesaian pembiayaan. Karena di koperasi selalu dilaksanakan pengawasan baik sebelum maupun sesudah realisasi pembiayaan. Di KSPS BKPK yang melakukan pengawasan terhadap nasabah pembiayaan adalah Account Officer. Account Officer selain melakukan analisis kelayakan pembiayaan mereka juga yang memutuskan apakah pengajuan pembiayaan nasabah tersebut terealisasi atau tidak, account officer mempunyai tanggung jawab penuh mulai dari teralisasinya pembiayaan sampai pelunasan. Pembiayaan minimal Rp 1.000.000 dengan jaminan BPKB sepeda motor. Account officer selalu melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap nasabah tersebut.

KSPPS BKPK ketika mengalami pembiayaan bermasalah, misalnya telat menyetor angsuran. Biasanya AO memantau baik melalui via telefon maupun langsung mendatangi rumah nasabah tersebut. Dalam hal penagihan sudah ada pembagiannya, baik dari wilayah, maupun dari segi lama menunggak pembayaran angsuran. Dalam masalah penagihan di KSPPS BKPK melalui unsur kekeluargaan. Terkadang meski ada peraturan pengenaan denda bagi nasabah yang telat membayar, namun terkadang jika telatnya masih belum terlalu lama dan masih bisa di monitoring maka sistem denda itu terkadang tidak diberikan, jika alasan penunggakan karena suatu hal yang dapat di toleransi. Ketika ada nasabah yang memang tidak mampu untuk membayar angsuran, maka langkah yang di lakukan KSPPS BKPK, tidak langsung dengan penyitaan barang yang dijaminkan. Terlebih dahulu pihak KSPPS BKPK melakukan motivasi untuk memulai kembali atau membenahi dan mengantisipasi penyebab kemacetan usaha atau angsuran.

Nasabah yang mempunya i’tikad baik, namun menunjukkan gejala-gejala kearah kredit macet KSPPS KSPPS melakukan penagihan secara intensif, ketika hal itu dirasa masih belum berhasil maka dilakukan perbaikan akad, misalnya yang awalnya tiga bulan pokok diakhir , maka diganti tiap bulan membayar pokok agar angsurannya tidak terlalu memberatkan. Selain itu juga bisa melakukan pinjaaman ulang, misalnya dengan akad Qard yaitu pembiayaan yang hanya mengembalikan pokoknya saja. Pilihan yang laainnya dengan penundaan pembayaran, ini bagi nasabah yang memang belum bisa mengangsur pada bulan tersebut.

Dan langkah terakhir ketika tidak ada i’tikad baik dari nasabah dalam memenuhi kewajibannya maka hal yang dilakukan yaitu penyitaan barang jaminan. Namun penyitaannya dilakukan dengan kekeluargaan maka melalui peradilan. Ketika penjualan barang jaminan melebihi sisa pokok, maka sisinya dikembalikan kepada nasabah. Jika masih kurang maka nasabah wajib memenuhi kekurangannya tersebut.


Please follow and like us:
20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *